Mungkin akhir-akhir ini kita mulai sering mendengar kata panas bumi atau geothermal bahasa londo-nya. Seperti tergambar dalam istilahnya, panas bumi merupakan sumber energi yang berasal dari sisa-sisa proses penciptaan bumi kira-kira 5 milyar tahun yang lalu. Panas ini terkurung oleh lapisan batuan beku di permukaan bumi yang kita pijak ini. Lapisan batuan beku ini begitu efektif menjaga panas yang terbentuk milyaran tahun itu tetap terjaga dalam bentuk batuan cair.

Ada kalanya lapisan batuan ini mempunyai celah sehingga batuan cair ini muncul ke permukaan dalam bentuk gunung berapi. Namun kadang celah ini tidak sampai menembus permukaan bumi. hanya batuan cair ini yang disebut magma ini mengalir di celah-celah batuan beku saja. Panas dari magma ini akan merambat ke batuan beku tadi.

Sementara itu, jauh di atas permukaan bumi, suatu kisah lain terjadi. Kerja sama yang baik antara sinar matahari dan putaran bumi baik rotasi ataupun revolusi menyebabkan terjadinya cuaca di atmosfer. Cuaca mengakibatkan terjadinya siklus air dari laut menguap, lalu membentuk awan dan kemudian turun dalam bentuk cair sebagai hujan. Air hujan ini ada yang langsung mengalir lagi ke laut, ada yang diserap mahluk hidup, dan ada yang meresap ke tanah. Air yang meresap ke tanah ini pun ada yang tetap tinggal di lapisan tanah yang dangkal sebagai air tanah dangkal (phreatic) dan ada yang terserap hingga jauh ke dalam lapisan batuan bumi sebagai air tanah dalam.

Kembali ke magma yang mengalir diantara batuan beku dan menyebarkan panas ke lapisan batuan tadi. Kadang, aliran magma tersebut tidak terlalu dalam, panas yang merambat di batuan beku itu pun kadang bisa mencapai aliran atau cadangan air di bawah tanah. Air tanah yang terkandung dalam pori-pori batuan bawah tanah pun memanas seperti direbus dalam panci.

Jika aliran air yang terpanasi ini bisa dengan mudah keluar dari tanah dan posisinya dekat dengan permukaan tanah, maka akan muncul sumber air panas. Tapi di tempat lain, kadang air ini tidak mudah keluar karena tertutup batuan yang kuat di atasnya. Karena tertutup dan terus mendapat panas dari batuan di bawahnya, air ini akan menerima panas hingga temperaturnya berada di atas titik didihnya. Kondisi ini menyebabkan air tanah tersebut mempunyai tekanan yang tinggi, di tambah lagi dengan tekanan di bawah permukaan tanah yang memang sudah tinggi. Jika “beruntung”, air yang sudah kegerahan ini di suatu tempat menemukan celah untuk keluar. Air yang keluar pun bertekanan hingga menyebur tinggi ke atas permukaan bumi yang di sebut sebagi geyser. Namun, kebanyakan air ini tidak dapat keluar ke permukaan hingga akan terus tersimpan di dalam celah-celah atau pori-pori batuan bumi. Air panas yang terjebak di dalam batuan inilah yang diburu manusia untuk digunakan sebagai sumber energi panas bumi.

Selain proses di atas, kadang terdapat lapisan batuan yang terkena panas dari magma tapi tidak memiliki kandungan air. Di sini diperlukan usaha manusia untuk memompa air kedalam batuan tersebut agar terjadi proses pembentukan uap. Cara ini dikenal sebagai hot dry rock system.

Penggunaan energi panas bumi oleh manusia sebenarnya tak sebatas pada kegunaannya sebagai sumber energi listrik seperti yang sedang heboh di Indonesia saat ini saja. Penggunaan energi panas bumi tentu saja bergantung pada temperatur dan besar tekanan air yang keluar dari permukaan bumi. Mulai dari yang paling sederhana, panas bumi banyak digunakan untuk pemandian air panas, penghangat ruangan, penghangat tanah pertanian dan greenhouse, heat pump, pemanas di industri dan tentu saja untuk pembangkit listrik.

Pemanfaatan panas bumi untuk keperluan pembangkit listrik dan untuk kebutuhan industri kurang populer sebelum tahun 90-an. Hal ini karena biaya investasi untuk penelitian dan pengeboran yang mahal sementara keuntungan yang dihasilkan tidak sebanyak minyak bumi. Dan lagi, energi ini tidak bisa diekspor ke luar negeri dalam bentuk mentah. Namun, setelah cadangan minyak bumi menipis dan isu kerusakan lingkungan akibat pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan semakin nyata, manusia pun mulai melirik lagi potensi panas bumi sebagai sumber energi alternatif yang bersih, ramah lingkungan, dan ternyata investasi per kWh-nya relatif lebih rendah dibanding energi nuklir dan bisa menghasilkan energi lebih besar dibanding solar cell ataupun tenaga angin.

Di Indonesia, potensi panas bumi menyebar di seluruh kepulauan nusantara. Terutama di Sumatera, Jawa, Sulawesi dan kepualuan nusa tenggara. Untuk pembangkit listrik, kita wajib bersyukur karena kebanyakan sumber panas bumi di Indonesia memilki tekanan dan temperatur yang cukup tinggi. Sehingga jika digunakan untuk membangkitkan energi listrik, bisa menghasilkan energi yang besar untuk setiap unit pembangkitnya. Curah hujan pun cukup stabil, sehingga ketersediaan air tanah (terutama air tanah dalam) cukup terjamin dan kita tidak perlu menggunakan sisten hot dry rock. Dan ketidakbisaan energi panas bumi untuk dibawa keluar dari daerah penghasilnya, mengharuskan pembangkit dibangun di dekat sumbernya. Dengan persebaran pembangkit listrik yang cukup merata, diharapkan pembangunan di daerah penghasil panas bumi akan terstimulasi.

Namun untuk menjaga agar sumber energi panas bumi terjamin secara menerus kita wajib menjaga kelestarian lingkungan. Bantuan dari hutan sangat dibutuhkan untuk menyerap air hujan ke tanah lapisan atas sebelum terserap lebih lanjut ke dalam lapisan bawah. Tanpa hutan yang terpelihara, air hujan akan berlalu begitu saja menuju sungai dan kembali ke asalnya di lautan. Pemanfaatan panas bumi juga harus dilakukan secara cermat dan tidak berlebihan. Sebab penggunaan yang berlebihan tentunya akan mengganggu keseimbangan antara kemampuan pemanasan dengan pasokan air yang masuk ke bawah tanah (baik oleh resapan air dari lapisan diatasnya atau dari penyuntikan kembali air yang sudah digunakan untuk pembangkitan). Jika ini terjadi, kualitas uap yang dihasilkan akan menurun dan kemampuan pembangkitan pun akan turun.

Di Italia ada pembangkit listrik panas bumi yang telah beroperasi lebih dari 100 tahun. Kita tentu berharap bisa demikian juga. Panas bumi (dan energi matahari tentunya) merupakan sebuah warisan langsung dari penciptaan bumi yang perlu kita manfaatkan dan kita pelihara sebaik mungkin untuk menjadi tulang punggung sumber energi kita di masa depan. (izzu)

Gambar: http://www.conserve-energy-future.com

About these ads