Het Klaverblad (Daun Semanggi) R.A. Kardinah, R.A. Kartini dan R.A. Roekmini

Het Klaverblad (Daun Semanggi) R.A. Kardinah, R.A. Kartini dan R.A. Roekmini

Setiap tanggal 21 April kita memperingati Hari Kartini. Kartini dikenalkan pada kita sebagai seorang pelopor emansipasi wanita. Keberadaan dan perjuangan Kartini diketahui setelah kumpulan surat-suratnya diterbitkan oleh seorang mantan pejabat Hindia Belanda bernama Mr. J.H. Abendanon menjadi sebuah buku berjudul Door Duiternis Tot Licht (DDTL) yang dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang. Dalam kisah yang dituturkan pada kita, Kartini adalah seorang wanita yang bercita-cita tinggi untuk memperoleh pendidikan dan karier yang setara dengan kaum lelaki. Namun karena adat bangsawan Jawa, maka dia harus dipingit untuk persiapan pernikahannya nanti. Dalam pingitannya, Kartini lalu mengisi hari-harinya dengan belajar dan menulis surat pada sahabat-sahabat penanya. Hingga kemudian Kartini menikah, mendirikan sekolah untuk wanita dan meninggal dunia. Kemudian atas simpati sahabat-sahabatnya diterbitkanlah surat-surat tersebut menjadi sebuah buku, DDTL.

Namun, perjalanan hidup Kartini hingga diterbitkannya DDTL tidaklah sesederhana kisah yang sering dituturkan pada kita. Bahkan cita-cita Kartini telah dikaburkan dari sebuah perjuangan untuk emansipasi bangsa menjadi emansipasi wanita. Pengkaburan itu sebenarnya tidak lepas juga dari peran buku DDTL yang justru merupakan satu-satunya sumber yang mengenalkan Kartini pada dunia saat itu. Hingga tanggal 21 April telah diperingati sebagai hari Kartini Sang Pahlawan Emansipasi Wanita bahkan sebelum Indonesia merdeka. Hal inilah yang membuat Kartini lebih populer sebagai pejuang kaum wanita dan bukan pejuang bangsa secara umum.

Jika dirunut jauh ke belakang, terbitnya DDTL adalah akibat adanya intrik antara kubu oposisi di parlemen Kerajaan Belanda terutama golongan sosialis dengan pemerintah Hindia Belanda. Lho? Benarkah sejauh itu?

Seperti kita ketahui dari sejarah bahwa setelah zaman Tanam Paksa, banyak kritik diarahkan ke pemerintah, hingga di laksanakan suatu pembaruan yang disebut politik etis. Namun pada pelaksanaannya politik etis itu tidak jauh beda dengan tanam paksa hingga hampir tidak ada perubahan yang berarti bagi masyarakat di negeri jajahan. Bahkan kemunduran masyarakat terus berlangsung. Hal-hal ini rupanya dipahami benar oleh Kartini. Dari proses belajar dan berpikir yang panjang selama dalam pingitan, Kartini pun mulai aktif dalam memperjuangkan hak rakyat jelata di sekitarnya setelah keluar dari pingitan bersama adik-adiknya terutama R.A. Roekmini dan R.A. Kardinah. Di sinilah di dalam jiwa Kartini tumbuh kesadaran berbangsa. Dia pun terus menjalin komunikasi dengan teman-temannya baik dari bangsa belanda maupun dengan pelajar-pelajar peribumi di Batavia. Hingga dia berkenalan dengan Estelle Zeehandelaar yang biasa dipanggil Stella, seorang aktivis partai sosialis di Belanda. Karena pikiran yang sejalan, Stella kemudian menjadi sahabat Kartini yang paling sering menjadi tempat berkonsultasi dan mengungkapkan segala pemikirannya. Tak lama kemudian Kartini berkenalan dengan Gubernur Jenderal Hindia Belanda W. Rooseboom dan kemudian dengan Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan yang baru, Mr. J.H. Abendanon.

Hubungan antara Kartini dengan keluarga Abendanon kemudian menjadi sangat dekat hingga Kartini menyebut Ny. Abendanon sebagai ibunda. Hal ini karena didorong oleh salah satu program Abendanon untuk membuat sekolah bagi gadis-gadis Jawa. Sehingga Abendanon sering minta pendapat pada Kartini. Sebelum itu, Kartini memang sudah dikenal oleh gubernur jenderal dan residen Semarang akan keinginannya untuk mendirikan sekolah semacam itu. Namun akhirnya program-program Abendanon dan Kartini itu kandas akibat penolakan bupati-bupati di Jawa.

Sementara itu dari hubungannya dengan Stella, Kartini berkenalan dengan Ir. H.H. van Kol, tokoh partai sosialis di parlemen kerajaan Belanda. Setelah mendengar banyak hal tentang Kartini, Van Kol menaruh perhatian yang sangat besar pada Kartini. Saat berkunjung ke Jawa, Van Kol menemui Kartini dan mendengarkan visi-visi Kartini atas bangsanya dan keinginannya untuk meneruskan sekolah kalau bisa sampai ke Belanda. Sekembalinya ke Belanda, Van Kol benar-benar memperjuangkan bea siswa untuk Kartini dan Roekmini (saat itu Kardinah sudah menikah). Usaha itu pun berhasil. Rupanya Van Kol dan kubu oposisi sangat berkepentingan untuk menyekolahkan Kartini di Belanda. Selain terkenal akan kemampuan menulisnya, Kartini juga terkenal cepat akrab dengan semua golongan termasuk para pejabat tinggi. Hanya dengan perkenalan singkat dia mampu membuat para pejabat dan keluarganya akrab dengannya seperti keluarga sendiri. Dan itu sudah dibuktikan sendiri oleh Van Kol. Bagi golongan oposisi, Kartini agaknya akan diorbitkan untuk menjadi tokoh di Belanda dan dijadikan senjata yang ampuh dalam menekan kebijakan pemerintah Hindia Belanda dan kebijakan kerajaan akan negeri-negeri jajahan.

Bersamaan dengan itu, Menteri Seberang Lautan/Negeri Jajahan yang baru, Idenburg, akan membuat kebijakan-kebijakan baru tentang negeri jajahan. Dan untuk menyusunnya diperlukan masukan-masukan dari negeri jajahan itu sendiri. Melalui pengaruh Van Kol dan partai sosialisnya, Kartini ditunjuk sebagai salah satu narasumber tentang Hindia Belanda terutama Jawa. Kemudian dikirimlah Mr. Slingenberg ke Jawa untuk mendapatkan masukan sebanyak mungkin. Karena kunjungannya sangat singkat dan banyaknya bahan yang harus diperolehnya maka dia tidak sempat menemui Kartini dan meninggalakan sebuah daftar pertanyaan yang cukup panjang untuk Kartini.

Manuver Van Kol ini agaknya meresahkan para penguasa Pemerintahan Otonomi Hindia Belanda. Hingga suatu malam Abendanon sendiri datang menemui Kartini dan membujuknya agar membatalkan niatnya untuk belajar di Belanda. Sebagai gantinya Kartini cukup belajar di Batavia dan akan difasilitasi untuk membangun sekolah khusus perempuan dengan program yang sepenuhnya diserahkan pada Kartini. Dalam dialog yang panjang tersebut berbagai alasan dikeluarkan oleh Abendanon mulai dari kondisi kesehatan bapaknya sampai berbagai kekhawatiran yang mungkin akan dialami oleh Kartini kalau sampai berangkat ke Belanda. Di luar dugaan, Kartini bersedia mengundurkan diri dari beasiswa ke Belanda meskipun dengan sangat berat hati. Saking beratnya keputusan ini hingga membuat Kartini jatuh sakit hingga sebulan lamanya. Selama ini diyakini bahwa Abendanon bertindak atas kemauan sendiri untuk mencegah kepergian Kartini ke Belanda. Tapi, siapapun tahu, sebagai direktur sebuah departemen, dia berada di bawah perintah gubernur jenderal. Dan kedatangannya menemui Kartini yang sangat mendadak itu diyakini untuk mendahului kedatangan Slingenberg. Namun sampai saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan keterlibatan gubernur jenderal.

Begitu Kartini membatalkan niatnya ke Belanda, Abendanon memintanya untuk membuat surat permohonan beasiswa ke Batavia dan usulan tentang pembukaan sekolah untuk perempuan berikut program-program yang diinginkannya. Saat itu juga, daftar pertanyaan dari Slingenberg tiba di meja Kartini. Segera setelah sembuh dari sakitnya, Kartini menulis jawaban dari pertanyaan Slingenberg. Disertai pandangan dan program-program yang dicita-citakannya, bukan hanya terhadap kaum perempuan tapi pada bangsanya. Tulisan ini kemudian disebut sebagai Nota Kartini pada Idenburg. Setelah itu kartini juga menulis sebuah tulisan yang panjang yang menyertai permohonan beasiswanya yang kemudian dikenal sebagai Nota Kartini untuk Rooseboom. Namun tidak seperti pengiriman nota ke Rooseboom yang begitu lancar bahkan didukung oleh residen Semarang, beasiswa untuk Kartini tak kunjung datang. Hal ini yang memperkuat dugaan bahwa semua itu hanya sebuah usaha untuk menggagalkan keberangkatan Kartini ke Belanda. Setelah lama menunggu, akhirnya Kartini memutuskan untuk menikah dan beasiswa itu turun tepat sehari setelah pinangan Bupati Rembang diterimanya. Sebuah kenyataan yang justru membuat hati Kartini semakin hancur. Karena saat itu sangat tidak mungkin bagi istri seorang bupati hidup sendiri jauh di luar kabupaten. Mungkinkah semua ini sudah disetting seperti itu?

Mengenai intrik-intrik ini, sebulan setelah kematian Kartini Stella menulis surat ke Ny. Van Kol “… adalah teramat kejam jika kita pikirkan bagaimana anak itu dengan kehidupannya yang indah dan memberi banyak harapan telah dikorbankan kepada gagasan-gagasan yang egoistis. Sebab dalam hal ini saya seluruhnya sepandapat dengan mendiang Tuan Van Overdelt (bapak kosnya Kartono-kakak Kartini di Belanda), bahwa dia (Kartini) telah dikorbankan untuk kepentingan pemerintah Hindia Belanda”.

Namun setelah kejadian-kejadian itu hubungan Kartini dengan keluarga Abendanon, Van Kol dan Stella masih akrab. Dan Kartini mengusahakan sendiri sekolah di rumahnya.

Setelah menyelesaikan tugasnya, Abendanon kembali ke Belanda. Menjelang keberangkatan ia mendapat kabar bahwa Kartini meninggal dunia, 4 hari setelah melahirkan. Kabar ini menjadi pukulan yang berat bagi Abendanon. Ia merasa sangat bersalah karena telah membuat Kartini batal belajar di Belanda. Jika memang pembujukan Kartini itu atas keinginannya sendiri, tentunya dia tidak akan merasa sangat terganggu dengan hal itu.

Sesampainya di Belanda, Abendanon bertekat untuk meneruskan cita-cita Kartini untuk mendirikan sekolah untuk gadis peribumi. Untuk menggalang dana, dia memutuskan untuk menerbitkan surat-surat Kartini menjadi sebuah buku. Selain dijual untuk mendapatkan dana, buku itu juga akan dipresentasikan untuk menarik simpati donatur. Abendanon segera mendata sahabat-sahabat Kartini dan meminta kesediaan mereka untuk menyerahkan surat-suratnya. Namun tidak semua sahabat Kartini mau menyumbangkan surat suratnya. Mungkin karena melihat Abendanon bertanggung jawab atas pembatalan Kartini ke Belanda, Stella sahabat Kartini yang paling dekat, cuma mau menyerahkan beberapa pucuk surat saja. Bahkan Annie Glaser (sahabat sekaligus guru Kartini) tidak mau menyerahkan sepusuk suratpun dan keluarganya dilarang memberi keterangan tentang Kartini. Namun bantuan paling besar Ny. Hilda de Booy-Boissevain (istri mantan ajudan gubernur jenderal) yang aktif dalam mengadakan kampanye keliling Belanda untuk memperkenalkan ide-ide Kartini guna menggalang dana untuk mendirikan Sekolah Kartini di Jawa.

Setelah terkumpul, surat-surat itu disusun dengan urutan tertentu dan diedit. Bagian-bagian yang bersifat sangat pribadi dihilangkan. Demikian juga dengan bagian-bagian yang bisa menimbulkan resistensi orang belanda terutama dari kalangan pejabat kerajaan. Bagi kita penghilangan bagian ini adalah suatu hal yang merugikan. Bagian-bagian yang menunjukkan cita-cita kebangkitan bangsa secara konkret dihilangkan. Sehingga bagi pembaca kebanyakan, Kartini akan tampak hanya sebagai seorang pejuang hak-hak kaum perempuan. Namun bagi Abendanon, pembuangan bagian-bagian adalah suatu langkah yang strategis. Karena tujuan Abendanon adalah untuk menarik simpati masyarakat Belanda guna mendukung usaha “penebusan dosanya” mendirikan sekolah seperti yang dicita-citakan Kartini.

Pada 21 April 1911, bertepatan dengan tanggal lahir Kartini, buku yang diberi judul Door Duiternis Tot Licht (DDTL) ini diterbitkan untuk pertama kali. Buku ini mendapat sambutan yang sangat positif, hingga tidak sampai 2 tahun, sudah terbit cetakan ketiga. Dengan modal buku inilah Ny. Hilda dan kawan-kawan mengkampanyekan ide Kartini. Sumbangan pun mengalir dari mana-mana, bahkan dari Ibu Suri Kerajaan Belanda. Karena besarnya dana yang diperoleh, antara 1913-1918 saja Sekolah Kartini sudah dirikan di 9 kota di Pulau Jawa. Sekolah-sekolah ini lah yang mengilhami Mr. C. Th. Van Deventer untuk mendirikan sekolah serupa dengan nama Sekolah Van Deventer dan juga yayasan untuk memberikan beasiswa untuk bangsa peribumi yang mau melanjutkan Studi ke Belanda.

Di kalangan pelajar Indonesia di Belanda DDTL disambut secara antusias sebagai pendorong semangat kebangsaan. Bahkan usulan agar gagasan-gagasan Kartini juga diadaptasi menjadi pedoman bagi De Indische Vereeninging disetujui secara aklamasi. Demikian juga di tanah air, dr. Cipto Mangunkusumo dalam tulisannya di De Express 14 Mei 1912 menyangkal dengan tegas bahwa tujuan utama Kartini adalah hanya untuk emansipasi wanita. Dia menunjukkan bahwa pada tiap suratnya, Kartini selalu menyatakan kerinduannya untuk melihat rakyatnya bangun dan bangkit dari tidur panjangnya. Tujuan Kartini untuk membangunkan bangsanya ini semakin terlihat setelah dibukanya dua Nota Kartini untuk publik dan diterbitkannya buku-buku tulisan R.A. Kardinah serta diterbitkannya kumpulan surat-surat Kartini kepada keluarga Abendanon secara utuh tanpa diedit sedikitpun.

Demikianlah, dengan segala kontroversinya, jasa Abendanon harus diakui, sangat besar dalam mengenalkan Kartini dan mendirikan sekolah-sekolah gadis di Jawa. Dari keberhasilan usahanya ini, banyak sahabat-sahabat Kartini yang kemudian juga menerbitkan buku tentang Kartini. Dan lebih dari itu semua, usahanya ini juga mendorong orang-orang yang peduli pada pendidikan di Hindia Belanda seperti Van Deventer untuk lebih banyak lagi mendirikan sekolah dan mendirikan yayasan untuk membiayai pelajar-pelajar peribumi untuk melanjutkan studi ke Belanda. Sehingga, keruntuhan pemerintahan kolonial tinggal menunggu waktu saja. Selamat Hari Kartini! (izzu)

Sumber: Kartini, Sebuah Biografi dan berbagai sumber.