n_a1s

Dari sebuah iklan acara peringatan Imlek di sebuah stasiun televisi saya pertama kali tahu band ini. Tapi kemudian lupa karena saya juga gak jadi nonton acaranya. Saat itu tahun 2000-an awal. Pas iseng main di toko kaset, saya nemu salah satu album mereka. Coba beli dan langsung cocok. Lama-lama ngefans juga. Bagi yang gak biasa dengar mungkin musik mereka terdengar agak aneh. Tapi menurut telinga saya langsung terdengar asik. Mungkin karena sebelumnya saya biasa dengar musik yang dianggap aneh seperti Kyai Kanjeng sampai Blackmore’s Night. Perpaduan instrumen musik tradisional (yang waktu itu belum tahu namanya) digabung dengan instrumen modern terdengar begitu eksotik.

Karena penasaran, coba cari info lain di internet, ternyata gak ada. Mungkin saat itu sudah ada tapi dalam bahasa mandarin atau jepang. Lha saya kan gak bisa baca tulisan gituan. Setelah beberapa kali punya kasetnya dan bertahun-tahun mendengar lagunya, baru belakangan ini saya baru mengenal mereka seiring dengan semakin banyaknya penggemar band ini di barat. Sehingga mulai muncul beberapa sumber info dengan bahasa inggris. Maklum di kasetnya sendiri gak ada nama yang bisa saya baca😀

Grup ini sangat populer di pertengahan dekade ini. Tapi di Indonesia sepertinya penggemarnya masih terbilang terbatas. Sumber info tentang band ini juga hampir gak ada di Indonesia. Jadi itung-itung nambah info bagi yang penasaran saya menulis riwayat band ini dalam beberapa bagian. Kalo ada yang mau nambahi silakan aja.

== *** ==

12 Girls Band (12 GB; 女子十二樂坊 (traditional); 女子十二乐坊(simplified); Nǚzǐ shí’èr Yùefǎng (pinyin)) adalah sebuah grup musik yang terdiri dari 12 orang cewek (kemudian menjadi 13) yang memainkan alat-alat musik tradisional China seperti erhu, pipa, yangqin, dizi, guzheng dan kadang duxianqin. Mereka meramu alunan musik tradisional dengan alat musik modern yang dimainkan additional player sebagai pengiring dan memainkan berbagai jenis lagu seperti pop, klasik, jazz dan bahkan rock. Formasi 12 GB ini terinspirasi dari grup musik istana yang seluruh pemainnya wanita pada zaman Dinasti Tang (618 – 907 M). Sedangkan jumlah 12 diambil karena dianggap angka keberuntungan. Meskipun pada kenyataannya band ini laris setelah anggotanya jadi 13 orang.

About The Music

Musik yang disajikan 12GB adalah paduan antara musik tradisional cina dengan musik modern. Lagu-lagu yang dimainkan juga bervariasi, mulai dari lagu-lagu tradisional, pop, rock, jazz bahkan rock dan juga klasik. Semua diaransemen ulang disesuaikan dengan instrument yang mereka mainkan.

Gaya musik yang mereka sajikan pun tak luput dari kontroversi. Sebagian mencibir karena menganggap warna khas kekuatan timbre Cina hilang. Karakter instrumen sejak dinasti Ming yang melengking, menyayat, tertutup oleh bas, entakan drum yang sangat nge-beat. Seorang komposer Cina bernama Li Lifu menilai mereka secara teknis tidak menyumbang apa pun yang baru. Erhu yang digesek dengan berdiri justru mengurangi kekayaan warna bunyinya. Tapi ada yang menilai mereka sangat inovatif, mampu memperlihatkan potensi modern dan seksi dari alat-alat tradisional, juga merangsang kalangan muda mempelajari instrumen kuno. (tempointeraktif.com 19/XXXIII 05 Juli 2004)

Mereka juga dianggap mampu menyejajarkan alat musik tradisional cina dengan alat musik klasik barat yang sudah terlebih dulu populer untuk di kawinkan dengan musik modern.

Untuk menilai hal ini mungkin kita bisa melihat dari asal mula didirikannya band ini. Wang Xiaojing, pendiri 12GB, berpikir untuk bisa mengemas alat musik tradisional cina agar bisa diterima kalangan yang lebih luas di tengah pasar musik yang saat ini didominasi warna musik dari barat. Dari pemikiran bersama para koleganya, akhirnya munculah konsep musik yang memadukan alat musik tradisional cina dengan musik modern. Tentang warna musik yang akan disajikan tentunya tak lepas dari pengaruh Wang Xiaojin yang mempunyai latar belakang sebagai produser musik pop. Sehingga warna musik pop lebih terasa dalam band ini.

Ada dua tujuan mengapa jalur ini yang dipilih. Secara komersial, musik-musik dengan warna pop saat ini memang sedang laris dan lebih mudah diterima oleh semua kalangan. dia berhasil mendapat tempat di pasar ini, tentu keuntungan besar bisa diraih. Mungkin musisi tradisional yang idealis menganggap musik yang disajikan 12GB menjadi kurang serius. Tapi bukankah sebelumnya memang sudah banyak musisi cina memasarkan musik tradisional ke pasaran dengan warna musik yang lebih serius tapi kurang laku di pasar musik. Mungkin mereka berhasil menembus pasar luar negeri seperti di AS dan Eropa, tapi yang bisa menerima musik mereka bisa dikatakan masih sangat sedikit dan terbatas pada kalangan tertentu saja. Warna musik klasik cina yang melengking dan menyayat tentunya kurang cocok di telinga orang-orang yang memang sudah terbiasa mendengar musik yang lebih nge-bass dan lebih dinamis, terutama kalau mau menembus pasar di dunia barat. Jika ingin sukses di pasar musik umum, tentunya harus dipilih warna musik yang bisa lebih mudah nyantol di telinga masyarakat umum. Dan dengan jalur musik yang mereka pilih, terbukti kalau mereka berhasil mewujudkannya.

Berkolaborasi dengan berbagai instrumen.

Berkolaborasi dengan berbagai instrumen.

Tujuan kedua secara idealis, mereka ingin menunjukkan bahwa alat musik tradisional cina juga bisa kok dimainkan untuk berbagai jenis musik. Hal ini dibuktikan dengan disajikannya komposisi-komposisi mulai dengan yang paling tradisional seperti petikan pipa di “Ten Sided Ambush”, duo pipa dan guzheng dalam “Mountain and River”, komposisi pop dan jazz barat seperti “Only Time”-nya Enya, “Clocks”-nya Coldplay, Take Five-nya Dave Brubeck, sampai simfoni klasik macam “Swan Lake”, dan gesekan maut erhu dalam “Csardas” dan “Bach Concert for Violin 1st Movement”. Belum lagi lagu-lagu J-Pop dan J-Rock yang juga banyak mereka mainkan. Dengan demikian mereka bisa merangsang minat generasi muda untuk mempelajari alat musik tradisional. Hal semacam ini pernah terjadi pada salah satu personel 12GB. Yang Songmei pernah bosan dan menjadi sebel banget dengan yang namanya yangqin, alat musik yang sudah dipelajarinya sejak kecil. Dia berniat untuk pindah bermain piano. Tapi setelah meneruskan pelajaran yangqin ke tingkat yang lebih tinggi dengan paksaan orang tuanya, minatnya tumbuh lagi setelah melihat senior-seniornya bermain yangqin dengan nada-nada yang lebih dinamis, tak lagi terpaku pada pakem tradisional.

Meski begitu, 12GB juga tidak sepenuhnya meninggalkan pakem tradisional. Dalam tiap albumnya selalu disertakan komposisi tradisional. Bahkan dalam beberapa vidio konser yang dirilis, mereka juga pernah menampilkan komposisi tradisional secara murni tanpa modifikasi dan tanpa iringan instrumen musik modern sama sekali.

Melihat hal-hal yang kemudian terjadi, saya pikir mereka telah berhasil mewujudkan tujuan-tujuan mereka. (bersambung)