Tabung Gas, memerlukan kedisiplinan kita bersama dalam memperlakukannya.

Dalam bulan Mei 2010 ini dilaporkan sudah ada tiga kasus meledaknya tabung gas Elpiji. Baik itu yang berisi 12 kg maupun yang 3 kg. Terlebih lagi tabung gas 3 kg, sudah sering terjadi.

Orang selalu menuding kualitas tabung gas yang jelek sehingga tidak tahan lama. Hal ini memang ada benarnya. Namun kalau kita jeli memperhatikan, sebenarnya faktor kualitas ini bukanlah faktor tunggal. Pengurus Harian YLKI Daryatmo saat berbincang dengan detikcom, penyebab ledakan dari tabung gas bisa berasal dari ada empat faktor, yakni tabung gas, regulator, selang, serta kelalaian manusia.

Untuk mencegah terjadinya bencana akibat kebocoran atau meledaknya tabung gas pemerintah, pelaku bisnis gas dan konsumen harus bekerja sama. Dalam hal kualitas tabung, pemerintah harus dengan benar mengawasi proses produksi dan tegas dalam menindak pengusaha yang tidak disiplin dalam produksi tabung gas.

Sedangkan untuk regulator dan selang, pemerintah dan pengusaha harus menghentikan perdagangan regulator dan selang berkualitas rendah. Pemerintah tidak bisa hanya menghimbau agar konsumen tidak membeli barang berkualitas rendah saja. Jika pemerintah mengeluarkan peraturan yang tegas dan disiplin dalam mencegah peredaran regulator dan selang berkualitas, para pedagang juga tak akan mau menjualnya. Lha mau jual gimana, wong barangnya saja tidak ada dan ada hukumannya lagi. Tapi para pedagang juga diharap kesadarannya agar tidak menjual regulator dan selang berkualitas rendah dari pasar gelap. Dan bagi para konsumen, jangan membeli barang berkualitas rendah. Kalo gak ada yang beli kan orang juga gak mau jual. Pemerintah juga diminta agar memberi kemudahan atau semacam subsidi agar regulator dan selang gas yang bagus bisa diperoleh dengan murah. Kalau memang niat mengonversi bahan bakar, pemerintah juga harus bertanggung jawab dalan menyediakan segala infrastrukturnya.

Sedangkan konsumen diminta agar tidak sembarangan dalam memperlakukan tabung gas. Perlakuan yang dimaksud termasuk pemasangan, pelapasan dan peletakan tabung gas beserta instalasinya.

Jangan Lupakan Faktor Penangnan

Selain hal-hal diatas, yang tidak boleh dilupakan, yaitu penanganan di tingkat distributor. Sering kita lihat para pekerja dengan seenaknya melempar tabung-tabung gas seenaknya. Meskipun tabung itu kosong, tapi nantinya kan diisi juga. Dan yang perlu kita ingat, setelah keluar dari pabrik, nasib tabung gas berada di tangan konsumen dan distributor, termasuk stasiun pengisian ulang Elpiji dan para pedagang.

Benturan-benturan yang terjadi akibat tabung yang dilemparkan, pasti akan mengurangi umur kelayakan pakai dari si tabung. Dan faktor umur inilah yang tidak bernah kita hitung. Selama ini kita anggap tabung gas akan bisa terus digunakan selama-lamanya. Benturan-benturan tersebut sedikit banyak pasti akan merusak tabung gas, terutama tabung 3 kg yang memang diproduksi dengan biaya murah. Separah apa tingkat kerusakan itu tentunya sangat bergantung pada daerah benturan dan kekuatan benturannya.

Di samping itu pemerintah juga harus tegas dalam mengawasi pemeliharaan tabung di stasiun pengisian Elpiji. Pengecekan kondisi tabung dan penggantian seal/perapat harus dilakukan dengan benar. Demikian juga dengan kualitas seal yang dipakai harus sesuai dengan standar yang diberlakukan (SNI).

Tabung gas, sebagai barang yang selalu berotasi dan berpindah-pindah tangan tentunya memerlukan tanggung jawab dan kedisiplinan kita semua untuk memperlakukannya dengan baik.

Harus kita ingat, bila kita memberi perlakuan dengan salah pada salah satu tabung gas, maka hal itu tidak hanya akan membahayakan diri kita tetapi juga akan membahayakan orang lain yang suatu saat akan memakai tabung gas itu. Betapa kejamnya jika kita memperlakukan tabung seenaknya sendiri, tapi suatu saat orang lain yang terkena bencana akibat keegoisan kita. Mungkin di dunia tidak akan ada yang bisa menuntut kita. Tapi yakinlah Tuhan Yang Mahatahu dan Mahaadil pasti akan menuntut pertanggungjawaban kita nanti. (izzu)